Thursday, April 18, 2013

MAKALAH TEKNOLOGI KERTAS PRODUKSI BERSIH PADA INDUSTRI PULP






                               
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Konsep Dasar Produksi Bersih.
Produksi Bersih merupakan salah satu sistem pengelolaan lingkungan yang dilaksanakan secara sukarela (Voluntary) sebab penerapannya bersifat tidak wajib. Konsep Produksi Bersih merupakan pemikiran baru untuk lebih meningkatkan kualitas lingkungan dengan lebih bersifat proaktif. Produksi Bersih merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan pendekatan secara konseptual dan operasional terhadap proses produksi dan jasa, dengan meminimumkan dampak terhadap lingkungan dan manusia dari keseluruhan  Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal, 1995) mendefini­sikan Produksi Bersih sebagai suatu strategi pengelolaan lingkungan yang preventif dan diterapkan secara terus-menerus pada proses produksi, serta daur hidup produk dan jasa untuk meningkatkan eko-efisiensi dengan tujuan mengurangi risiko terhadap manusia dan lingkungandaur hidup produknya.
Strategi Produksi Bersih mempunyai arti yang sangat luas karena di dalamnya termasuk upaya pencegahan pencemaran dan perusakan lingkungan melalui pilihan jenis proses yang akrab lingkungan, minimisasi limbah, analisis daur hidup produk, dan teknologi bersih. Pencegahan pencemaran dan perusakan lingkungan adalah strategi yang perlu diprioritaskan dalam upaya mewujudkan industri dan jasa yang berwawasan lingkungan, namun bukanlah merupakan satu satunya strategi yang harus diterapkan.Strategi lain seperti program daur ulang, pengolahan dan pembuangan limbah tetap diperlukan, sehingga dapat saling melengkapi satu dengan lainnya.
Strategi untuk menghilangkan limbah atau mengurangi limbah sebelum terjadi (preventive strategy), lebih baik daripada strategi pengolahan limbah atau pembuangan limbah yang telah ditimbulkan (treatment strategy). Kombinasi kedua strategi tersebut sesuai dengan skala prioritas pelaksanaan Produksi Bersih adalah sebagai berikut:

1.      Eliminasi.
Strategi ini dimasukkan sebagai metode pengurangan limbah secara total. Bila perlu tidak mengeluarkan limbah sama sekali (zero discharge).
2.      Mengurangi sumber limbah.
Strategi pengurangan limbah yang terbaik adalah strategi yang menjaga agar limbah tidak terbentuk pada tahap awal. Pencegahan limbah mungkin memerlukan beberapa perubahan penting dalam proses produksi, tetapi dapat meningkatkan efisiensi ekonomi yang besar dan menekan pencemaran lingkungan.
3.      Daur Ulang.
Jika timbulnya limbah tidak dapat dihindarkan dalam suatu proses, maka harus dicari strategi-strategi untuk meminimumkan limbah tersebut sampai batas tertinggi yang mungkin dilaku­kan, seperti misalnya daur ulang (recycle) dan/atau penggunaan kembali (reuse). Jika limbah tidak dapat dicegah atau di­minimumkan melalui penggunaan kembali atau daur ulang, strate­gi-strategi yang mengurangi volume atau kadar racunnya melalui pengolahan limbah dapat dilakukan. Walaupun strategi ini kadang-kadang dapat mengurangi jumlah limbah, tetapi tidak sama efektifnya dengan mencegah limbah di tahap awal.
4.      Pengolahan Limbah.
Strategi yang terpaksa dilakukan mengingat pada proses perancangan produksi perusahaan belum mengantisipasi adanya teknologi baru yang sudah bebas limbah. Artinya limbah memang sudah terjadi dan ada dalam sistem produksinya, namun kualitas dan kuantitas limbah yang ada dikendalikan agar tidak melebihi baku mutu yang disyaratkan.
5.      Pembuangan Limbah.
Strategi terakhir yang perlu dipertimbangkan adalah metode-metode pembuangan alternatif. Pembuangan limbah yang tepat merupakan suatu komponen penting dari keseluruhan program manajemen lingkungan, meskipun ini adalah teknik yang paling tidak efektif.
6.      Remediasi.
Strategi penggunaan kembali bahan-bahan yang terbuang bersama limbah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kadar racun dan kuantitas limbah yang ada.
1.2 Peluang Dan Tantangan Penerapan Produksi Bersih.                                                                                                                                                                                                                           Produksi
Bersih diperlukan sebagai cara untuk mengharmonisasikan upaya perlindungan lingkungan dengan kegiatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Peluang penerapan Produksi Bersih adalah :
1.      Memberi keuntungan ekonomi,sebab didalam Produksi Bersih terdapat strategi pencegahan pencemaran pada sumbernya (source reduction dan in-process recycling) yaitu pencegahan terbentuknya limbah secara dini dengan demikian dapat mengurangi biaya investasi yang harus dikeluarkan untuk pengolahan dan pembuangan limbah atau upaya perbaikan lingkungan.
2.      Mencegah terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan.
3.      Memelihara dan memperkuat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang melalui  konservasi sumber daya, bahan baku dan energi.
4.      Mendorong pengembangan teknologi baru yang lebih efisien dan akrab lingkungan
5.      Mendukung prinsip ‘environmental equity’ dalam rangka pembangunan berkelanjutan.
6.      Mencegah atau memperlambat terjadinya proses degradasi lingkungan dan pemanfaatan sumberdaya alam.
7.      Memelihara ekosistem lingkungan.
8.      Memperkuat daya saing produk di pasar internasional.
9.      Tantangan Penerapan Produksi Bersih, antara lain :
10.  Tercapainya efisiensi produksi yang optimal
11.  Diperolehnya penghargaan masyarakat terhadap sistem produksi yang akrab lingkungan
12.  Mendapatkan insentif.
Pengembangan pelaksanaan dan penerapan Produksi Bersih intinya adalah merubah pola pikir tradisional ‘end-of-pipe’ dengan paradima baru dalam pengelolaan pencemaran lingkunan, yaitu penerapan Produksi Bersih, yang dapat meningkatkan efisiensi produksi sehingga akan memberikan peningkatan keuntungan baik secara finansial, teknik maupun regulasi. Meskipun demikian, hambatan ekonomi akan timbul bila kalangan usaha merasa tidak akan mendapat keuntungan dalam penerapan Produksi Bersih. Sekecil apapun penerapan Produksi Bersih, bila tidak menguntungkan bagi perusahaan maka akan sulit bagi manajemen untuk membuat keputusan tentang penerapan Produksi Bersih.


Hambatan pada aspek ekonomi dan teknis antara lain adalah:
1.      Keperluan biaya tambahan peralatan.
2.      Tingginya modal/investasi dibanding kontrol pencemaran secara konvensional sekaligus penerapan Produksi Bersih.
3.      Penghematan proses Produksi Bersih yang belum nyata realisasinya.
4.      Kurangnya informasi Produksi Bersih.
5.      Sistem yang baru ada kemungkinan tidak sesuai dengan yang diharapkan atau malah menyebabkan gangguan.
6.      Fasilitas produksi ada kemungkinan sudah penuh tidak ada tempat lagi untuk tambahan peralatan.
Kendala Sumber Daya Manusia dalam penerapan Produksi Bersih dapat berupa :
1.      Kurangnya komitmen manajemen puncak.
2.      Adanya keengganan untuk berubah baik secara individu maupun organisasi.
3.      Lemahnya komunikasi internal.
4.      Pelaksanaan organisasi yang kaku.
5.      Birokrasi, terutama dalam pengumpulan data.
6.      Kurangnya dokumentasi dan penyebaran informasi. 
7.      Kurangnya pelatihan kepada sumberdaya manusia mengenai Produksi Bersih.
     Manfaat penerapan Produksi Bersih, antara:
1.      Lebih efektif dan efisien dalam penggunaan sumberdaya alam.
2.      Mengurangi biaya-biaya yang berkenaan dengan lingkungan.
3.      Mengurangi atau mencegah terbentuknya pencemar.
4.      Mencegah berpindahnya pencemar dari satu media ke media lain.
5.      Mengurangi risiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
6.      Memberikan peluang untuk mencapai sistem manajemen lingkungan pada ISO 14000.
7.      Memberikan keunggulan daya saing di pasar domestik dan internasional.
Saat ini terdapat dua mekanisme yang mendorong terjadinya pendekatan baru dalam hal perdagangan global, yaitu pertama, adanya kekuatan konsumen yang makin meningkat dan makin besarnya rasa solidaritas lingkungan terhadap produk yang dibelinya agar tidak menimbulkan dampak lingkungan dalam pengadaannya, seperti ecolabel atau green label yang menandai bahwa produk tertentu diproduksi melalui Produksi Bersih. Kedua, sejak awal tahun tujuh puluhan sampai pertengahan delapan puluhan, industri menghadapi penegakan hukum yang konsisten disertai baku mutu yang makin ketat. Oleh karena itu, terjadi kejar- mengejar antara baku mutu dengan kemampuan industri menaati baku mutu. Dari sisi perdagangan pun, terjadi kecenderungan mengaitkan aspek lingkungan hidup, sehingga hal tersebut menjadikan suatu tantangan bagi kalangan industri dan jasa untuk dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerjanya supaya tetap dapat mempertahankan diri dalam situasi persaingan global.                    Pengusaha juga perlu mempertimbangkan perspektif konsumen mengenai produknya, seperti citra positif yang diperoleh dengan mendapatkan sertifikasi ekolabel dan ISO 14000. Sebagian konsumen mempunyai pertimbangan yang luas dalam setiap melakukan tindakan berkonsumsi. Mereka tidak hanya memperhatikan mutu, penampilan, harga, garansi ataupun pelayanannya saja, melainkan juga akan mempertimbangkan beberapa masalah baru. Pertama, masalah ekologi, yang berkaitan dengan adalah ada tidaknya unsur pencemaran atau perusakan lingkungan mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, serta akibat yang ditimbulkan dari penggunaan barang tersebut. Kedua, masalah etika, setiap kali konsumen memutuskan untuk membeli atau tidak membeli, mereka terlebih dahulu mempertimbangkan etika produsennya. Apakah produsen menjalankan usahanya dengan benar atau apakah produsen tidak memanfaatkan kelemahan peraturan yang ada di suatu negara. Contoh dalam hal ini adalah penghargaan yang lebih dari konsumen terhadap suatu perusahaan yang telah menggunakan standar yang diakui secara internasional (misalnya ISO 9000, ISO 14000).Yang ketiga adalah masalah keadilan, yaitu apakah produksi tersebut mengeksploitasi sumberdaya alam dan ekonomi masyarakat lokal, atau apakah pengusaha mengupayakan pelestarian dengan penghitungan yang tepat antara eksploitasi yang mereka lakukan sejalan dengan upaya perbaikan. Contoh dalam masalah ini adalah kondisi masyarakat yang sekarang makin kritis dimana upaya pelestarian lingkungan hidup selalu ditanyakan dalam setiap bentuk produk dan jasa yang ada. Penerapan Produksi Bersih dapat mendukung ketiga aspek tersebut, terutama dalam kaitannya dengan sertifikasi ekolabel dan ISO 14000.                     Sikap Indonesia mengenai perlunya integrasi Produksi Bersih dengan strategi pemasaran produk dalam menanggapi isu lingkungan sudah jelas. Hal tersebut sudah menjadi komitmen pemerintah. Dalam konteks perdagangan dan industri di Indonesia, pemerintah juga telah memperkenalkan Produksi Bersih (cleaner production) sejak tahun 1993 melalui program-program yang dikembangkan oleh BAPEDAL untuk menarik minat masyarakat (Community Awareness ) dalam menerapkan Produksi Bersih.Tekad pemerintah untuk melaksanakan Produksi Bersih ini kemudian dicanangkan pada tahun 1995 sebagai komitmen nasional bagi kalangan industri dan pengusaha untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Sebagai tindak lanjutnya pada tahun 1996 kemudian telah disusun suatu Rencana Pelaksanaan Kegiatan Produksi Bersih yang mencakup arahan pelaksanaan Produksi Bersih pada seluruh sektor kegiatan. Pola ini dilakukan melalui kegitan bantuan teknis, pengembangan sistem informasi, peningkatan kesadaran dan pelatihan serta pengembangan sistem insentif. Selanjutnya program-program Produksi Bersih dilaksanakan sejalan dengan program-program lain yang dapat mendorong penerapan Produksi Bersih seperti label lingkungan (environmental labelling) dan Sistem Manajemen Lingkungan (environmental management system) melalui kerjasama dengan instansi terkait misalnya Departemen Perindustrian dan Perdagangan.                           Pada hakekatnya, pemasaran ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Persoalannya, kebutuhan konsumen dalam era globalisasi ini tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan untuk hidup saja, tetapi juga kebutuhan untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan hidup mereka. Itulah sebabnya kepedulian konsumen akan lingkungan yang semakin meningkat ini perlu diantisipasi oleh semua pihak. Dengan adanya integrasi Produksi Bersih dengan strategi pemasaran produk maka banyak manfaat yang dapat diperoleh bagi semua pihak (win-win situation). Misalnya, bagi usaha ekspor, upaya mengintegrasikan penerapan Produksi Bersih dengan strategi pemasaran akan membuat produk dan atau jasanya telah memenuhi persyaratan tertentu sehingga dapat dikatakan sebagai produk/jasa yang akrab dengan lingkungan. Dengan demikian produknya dapat diterima oleh konsumen internasional.

1.4 Strategi Penerapan Produksi Bersih.
Komitmen Nasional Produksi Bersih merupakan upaya penggalangan penerapan Produksi Bersih secara sukarela oleh berbagai kalangan, baik itu pemerintah, kalangan industri dan jasa, bahkan para peneliti dan konsultan yang terlibat. Komitmen Nasional ini antara lain adalah dengan melaksanakan:
1.      Produksi Bersih dipertimbangkan pada tahap sedini mungkin dalam pengembangan proyek-proyek baru, atau pada saat mengkaji proses dan/atau aktivitas yang sedang berlangsung.
2.      Semua pihak turut bertanggung jawab dan terlibat dalam program dan rencana tindakan Produksi Bersih dan bekerjasama untuk mengharmonisasikan pendekatan-pendekatan Produksi Bersih.
3.      Agar Produksi Bersih dapat dilaksanakan secara efektif, semua pendekatan melalui peraturan perundang-undangan, instrumen ekonomi maupun upaya sukarela harus dipertimbangkan.
4.      Program Produksi Bersih menekankan pada upaya perbaikan yang berlanjut.
5.      Produksi Bersih hendaknya melibatkan pertimbangan daur hidup suatu produk.

                                                
BAB II
PENANGANAN BAHAN BAKU

2.1 Bahan Baku
Bahan baku berasal dari jenis kayu Accasia Mangium yang akan mengalami beberapa proses untuk menghasilkan  pulp. Bahan baku tersebut dperoleh dari Hutan Tanaman Industri PT. Musi Hutan Persada (PT MHP).
Kayu merupakan hasil hutan dari sumber kekayaan alam dan merupakan bahan mentahyang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan kemajuan teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat yang tidak dapat ditiru oleh bahan lain.

Sifat umum yang terdapat pada kayu adalah :
1.      Semua batang pohon mempunyai pengatur vertical dan sifat simetris radial.
2.      Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan sel nyaterdiri dari senyawa kimia berupa selulosa dan hemiselulosa (unsure karbohidrat) serta berupa lignin (non karbohidrat).
3.      Semua kayu bersifat anisotripic, yaitu memperlihatkan sifat yang berlainan jika diujimenurut tiga arah utamanya (longitudinal, tangensial, dan radial). Hal ini disebabkanstruktur dan orientasi selulosa dalam dinding sel , bentuk memanjang sel kayu dan pengaturan sel terhadap sumber vertical dan horizontal pada batang pohon.
4.      Kayu merupakan suatu yang bersifat higroskopik , yaitu bertambah kelembabannyaakibat perubahan kelembaban dan suhu udara sekitarnya.5.Kayu dapat diserang oleh makhluk hidup perusak kayu, dapat juga terbakar terutamakayu dalam keadaan kering.


2.1.1 Sifat Kimia Kayu.
Komponen didalam kayu mempunyai arti penting, karena menentukan kegunaan dari jenis kayu tersebut, pada umumnya komponen kimia kayu daun lebar dan kayu daun jarumterdiri dari 3 unsur :
a.       Karbohidrat terdiri dari sellulosa dan hemiselulosa .
b.      Non karbohidrat yang berupa lignin.
c.       Ekstraktif, yaitu yang diendapkan dalam kayu selama proses pertumbuhan.

Distribusi komponen kimia tersebut dalam dinding sel kayu merata, dan kadar selulosa sertahemiselulosanya banyak terdapat dalam dinding sekunder. Sedangkan lignin banyak terdapatdalam dinding primer dan lamella tengah. Zat ekstraktif terdapat diluar dinding sel kayu.

Unsur-unsur kimia dalam zat kayu adalah:
a.       Karbohidrat 50 % 
b.      Hidrogen 6 %
c.       Nitrogen 0,04 –0,1 %
d.      Abu 0,2-0,5%
e.       Sisanya O

2.1.2 Sifat Fisik Kayu
Beberapa sifat fisik yang terdapat pada kayu adalah sebagai berikut :
1.      Berat Jenis.
Kayu mempunyai berat jenis yang berbeda, yaitu antara 0,2 – 1,8. Berat jenis merupakan petunjuk penting bagi beberapa sifat kayu, makin berat kayu maka pada umumnya makinkuat pula kayu tersebut. Berat jenis kayu ditentukan oleh tebal dinding sel kayu, dankecilnya rongga sel kayu yang membentuk pori-pori.
2.      Keawetan Alami Kayu.
Keawetan alami kayu adalah ketahanan kayu terhadap serangan dari unsure unsure perusak kayu dari luar, seperti ; jamur, rayap, bubuk, cacing dan lainnya yang diukur dalam jangka tahunan.
3.      Warna Kayu.
Ada beberapa macam warna kayu, antara lain warna kuning, keputih-putihan, coklatmuda,  coklat tua, kehitam-hitaman, dan kemerah-merahan. Warna pada kayu disebabkanoleh zat pengisi warna.
4.      Higroskopik Higroskopik  adalah suatu sifat yang dapat menyerap atau melepaskan air ataukelembaban kayu sangat  dipengaruhi oleh kelembaban dan suhu udara.
5.      Berat Kayu.
Berat suatu jenis kayu tergantung dari jumlah zat kayu.


2.1.3. Proses Produksi.
Bahan baku berasal dari jenis kayu Accasia Mangium akan mengalami beberapa tahap proses dari tahap persiapan hingga akhir menjadi pulp.


2.2.Bahan baku kayu
      a.Pengulitan
              Barkstorage merupakan tempat penampungan limbah yang berupa kulit kayu yang sudah dikecilkan dengan menggunakan pallman chipper, debu kayu atau serbuk kayu yang digunakan sebagai bahan bakar multi fuel boiler. Tiap proses pengulitan dan serpihan kayu memilki conveyor tersediri yang tujuannya untuk mengumpulkan dan membawa kulit dan serbuk kayu yang terpisah dari kayu yang sudah diolah.

   

v  Debarking Drum
Debarking Drum berfungsi untuk menguliti kulit kayu yang berkapasitas 250 m3/jam.Kulit ini harus dipisahkan karena akan mempersulit dalam proses pembuatan pulp dan akan menyebabkan bintik hitam pada pulp yang dihasilkan. Gelondongan kayu tersebut masuk ke debarking drum yang berputar, proses pengulitan terjadi karena singgungan dan benturan antar gelondongan kayu dengan debarking drum.Sementara proses penguulitan itu berlangsung sekitar ± 9 menit, air terus dialirkan yang berguna untuk memudahkan pengelupasan kukit kayu dan menghilangkan debu yang saling berbenturan. Debarking drum ini dilengkapi dengan slot- slot pada dindingdindingnya unutuk tempat keluarnya kulit kayu yang terkelupas. Kulit kayu yang sudah terkelupas dikirim ke bark shredder melaui scrapper conveyor, sedangkan gelondongan kayu yang sudah dikuliti akan dikirim ke proses washing melalui chipper feed conveyor.

b.Penyerpihan
Proses  ini dimulai dengan pengankutan serpihan kayu dari chip file
   dengan menggunakan screw conveyor, dan selanjutnya dengan shuttle  conveyor yang akan memasukkan chips ke degister – degister yang kosong dengan waktu pengisian ± 25-30  menit untuk masing- masing degister. Udara yang ada dalm degister dihilangkan melalui sirkulasi dengan menggunakan blower.
Shutle conveyor berjalan dari satu degister ke degister yang  kosong untuk pengisian chip. Chip yang masuk dikontrol dengan alat yang disebut weightometer aagar pengisisan tidak melewati batas yang ditentukan adalah 75 ton. Selama proses pengisisan chip, dialirkan16 uap (steam) dengan tekanan rendah kedalam degister melalui chip pakker yang terdapat pada bagian atas bejana untuk menimbulkan gerakan twbulen yang berfungsi menyamaratakan chip dalam degister sehingga tercapai kapasitas yang diinginkan. Proses ini membutuhkan waktu selama 25 menit.
  
 d. penyimpanan kayu(wood storage)                                                                    Wood storage merupakan tempat penyimpanan gelondongan kayu yang bertempat secara terbuka dan berlokasi di unit persiapan kayu. Luas area tempat penimbunan kayu ini adalah 240 m x 90 m dan dibagi atas 7 blok penyimpanan kayu yaitu bolk A – blok G,sehingga memudahkan penyusunan kayu yang datang karena pemakaian kayu berdasarkan sistem “ FIFO First In First Out” . gelondongan kayu yang berasal dari hutan tanam industry dibawa ke lokasi pabrik dengan menggunakan truk- truk milik nitra. Kayu yang sudah dibawa suadah dipotong terlebih dahulu di sektor dengan ukuran ± 2,5 m dan diameter kayu 140 cm. kayu- kayu tersebut dibongkar dengan mengunakan Conecrane(Goliath Cranc) dan disusun di blok- blok yang ada di log yard.                                                                                          
v  Loading deck                                                                                               Loading deck merupakan rantai yang terdiri dari 8 baris yang bergerak unutk menggerakkan kayu masuk ke Slasher deck, dimana kayu tersebut berasal dari penimbunan       kayu yang diangkut dengan logam (material handling) dan diletakkan ke loading deck ini terdapat slot panjang pada sisi- sisinya yang berfungsi sebagai level sensor untuk menjaga agar loading deck tidak over load. Jika kayu- kayu yang masuk ke loading deck melebihi tinggi slot maka secara otomatis loading deck akan terhenti.
v  Slasher Deck
       Slasher deck dilengkapi dengan alat pemotong disebut circulation saw yang fungsinya memotong kayu- kayu panjang. Pada slasher deck terapat scrapper conveyor yang berfungsi untuk menampung debu- debu dari kayu yang bergerak yang selanjutnya akan dibawa bark shredder (tempat pertemuan conveyor – conveyor yang menyangkut debukayu,dan chip kayu yang terlalu kecil).



v  Chain Inti Drum
               Chain Inti Drum disini berfungsi sebagai tempat berkumpulnya kayu yang bergerak dari slasher deck yang kemudian kayu akan bergerak ke infeed conveyor.

v  Infeed conveyor
         Infeed conveyor merupakan suatu alat yang membawa gelondongan kayu ke sistem pemisah.

v  Washing station                                                                                             
       Sementara drum orbit shaim yang bergerak terus dalam belt conveyot, kayu dicuci dengan cara menyemprotkan air dari atas sementara kayu berada drum orbit chain yang terus bergerak ke infeed chute (infeed belt).

v  Infeed Chute (Infeed Belt)
      Pada jalur Infeed Chute terdapat metal detector yang berfungsi untuk mengetahui/mendeteksi benda- benda yang terikut dengan kayu- kayu yang lewat yang dapat merusak chipper seperti metal/logam.

f.       pemanfaatan limbah padat
      Contoh dari limbah padat (sludge) berasal dari limbah cair yang  telah melewati pengolahan dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk dan bahan campuran untuk pembakaran di boiler. Selain itu, limbah padat (sludge)juga dapat dimanfaatkan untuk memproduksi kertas embosse atau tutup kor pada gulungan kertas.
             Pada sistem pengolahan air limbah, selain diharapkan akan dihasilkan effluent yang sesuai dengan baku mutu yang ada maka akan selalu dihasilkan juga biasanya berbentuk cairan semi padat yang mengandung 93 – 99.5 % air, 0.2 – 1.2 % padatan dan zat-zat terlarut yang dikandung oleh air limbah atau dikulturkan oleh proses penanganan air limbah. Karakteristik lumpur mempengaruhi kelayakan dari alternatif-alternatif pemanfaatan dan pembauangannya. Karakteristik lumpur tersebut dipengaruhi oleh komposisi air limbah yang ditangani serta proses-proses penanganan air limbah. Hal ini akan terlihat jelas pada lumpur yang dihasilkan oleh sistem penanganan air limbah yang menerima buangan-buangan industri dalam jumlah yang besar.
    
     Lumpur yang dihasilkan pada sistem pengolahan air limbah industri  kertasada 2 macam, yaitu:
   1) Primary sludge
Merupakan sludge hasil endapan air limbah yang dihasilkan dari primary clarifier. Proses pada primary clarifier ini merupakan proses pengolahan primer, dimana air buangan yang diolah belum melewati proses-proses yang lainnya yang dapat mengubah karakteristik air limbah sehingga lumpur yang dihasilkan merupakan SS yang dapat mengendap secara gravitasi dan merupakan lumpur anorganik, dengan kandungan utamanya adalah fiber,lateks, dan clay.
  2) Secondary sludge
Merupakan lumpur yang dihasilkan sebagai endapan pada secondary clarifier.Air limbah yang diolah pada secondary clarifier merupakan air limbah yang telah diolah secara biologis yaitu pengaktifan mikroorganisme yang menggunakan zat anorganik yang terdapat pada air limbah untuk pertumbuhannya. Dengan demikian lumpur yang dihasilkan merupakan lumpur organik.

v  Limbah cair
Limbah cair yang dihasilkan dari proses produksi diolah lebih lanjut oleh Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).Instalasi pengolahan limbah cair kertas yang digunakan meliputi:                                                           
1. Bak Ekualisasi
Bak ekualisasi berfungsi untuk menghomogenkan limbah yang
berasal dari berbagai kawasan dan meningkatkan kadar oksigen. Bak ini
dilengkapi dengan mixer dan penyaring (filter).

2. Bak Pengendap I (Primary Clarifier)
Saat dialirkan ke bak pengendap I, limbah ditambahkan dengan koagulan dan flokulan. Jenis koagulan yang digunakan adalah alum atau
PAC (Poly Aluminium Chloride), sedangkan flokulan yang digunakan adalah jenis polimer. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
      Al2(SO4)3 + 6H2O→ 2Al(OH)3 + 3H2SO4
Senyawa Al(OH)3 akan memberikan efek flokulasi dengan cara menjembatani partikel-partikel serat sehingga terbentuk flok-flok besar.
Flok-flok inilah yang kemudian diendapkan pada bak pengendap I. Filtrat
yang dihasilkan dialirkan ke belt press atau didaur ulang untuk pemasakan
bubur di hydra pulper. Bak pengendap I ini juga dilengkapi dengan scrapper untuk menggiring kotoran yang mengapung di tepi agar menuju ke tengah dan dapat disedot oleh pompa yang berada di tengah bak pengendap. Air limbah yang tersisa kemudian dialirkan ke bak aerasi untuk diproses secara biologis.


3. Bak Aerasi
Pada bak aerasi terjadi pengolahan air limbah secara mikrobiologi
  dengan menggunakan lumpur aktif yang mengandung bakteri jenis Sarcodina atau Rotutoria. Prinsip lumpur aktif adalah memanfaatkan bakteri-bakteri aerob untuk mengurai polutan dalam air, yang nutrisinya dipenuhi oleh nitrogen dan fosfor. Bakteri ini berasal dari kotoran kerbau dan akan memakan sisa-sisa serat.




Pembuatan Pulp Dari Bahan Baku Non Kayu
PULP
Pulp adalah produk utama kayu, terutama digunakan untuk pembuatan kertas, tetapi pulp juga diproses menjadi berbagai turunan selulosa, seperti rayon dan selofan. Pulp sering juga disebut hasil pemisahan serat dari bahan baku berserat (kayu maupun non kayu) melalui berbagai proses pembuatannya (mekanis, semikimia, kimia). Tujuan utama pembuatan pulp kayu adalah untuk melepaskan serat-serat yang dapat dikerjakan secara kimia, atau secara mekanik atau dengan kombinasi keduanya. Prinsip pembuatan pulp secara mekanis yakni dengan pengikisan dengan menggunakan alat seperti grinda. Proses mekanis yang biasa dikenal diantaranya PGW (Pine Groundwood), SGW (Semi Groundwood). Proses semi kimia merupakan kombinasi antara mekanis dan kimia. Yang termasuk ke dalam proses ini diantaranya CTMP (Chemi Thermo Mechanical Pulping) , NSSC (Neutral Sulfite Semichemical). Sedangkan yang termasuk proses kimia yaitu proses kraft yang merupakan bagian proses basa dan proses sulfit yang termasuk proses asam. Dimana proses kraft ini pertama sekali dikenal di Swedia pada tahun 1885. Disebut kraft karena pulp yang dihasilkan dari proses ini memiliki kekuatan lebih tinggi dari pada proses mekanis dan semikimia, akan tetapi rendemen yang dihasilkan lebih kecil diantara keduanya karena komponen yang terdegradasi lebih banyak (lignin, ekstraktif dan mineral.

Ada beberapa pembuatan pulp dari bahan baku non kayu diantaranya:
a.      Jerami.
Jerami merupakan limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pulping yang mudah di dapatkan dan merupakan energi yang terbarukan. Juga jerami dapat langsung digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas. Penggunaan jerami sebagai bahan baku kertas dapat digunakan setelah masa panen padi yaitu sekitar 2 bulan. Berbeda dengan kayu yang masa pertumbuhannya sampai tahunan, juga jika menggunakan bahan baku kayu maka akan menyebabkan berbagai kerugian antara lain bencana alam.Perkembangan pendidikan dunia yang semakin meningkat, akan berbanding lurus dengan konsusmsi kertas dunia. Kertas adalah bahan yang tipis dan rata, yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp. Serat yang digunakan biasanya adalah alami, dan mengandung selulosa dan hemiselulosa.
a.       Jerami Padi (Oriza sativa).
Jerami adalah bagian vegetatif dari tanaman padi (batang, daun, tangkai malai). Ketiga unsur ini relatif kuat karena mengandung unsur silika, dan selulosa yang tinggi serta pelapukan yang memerlukan waktu yang relatif lama. Pada waktu tanaman dipanen, jerami adalah bagian tanaman yang tidak dipungut.

 Bobot jerami padi merupakan fungsi dari:
a.       Rejim air,                   
b.      Varietas, nisbah/ gabah jerami,
c.       Cara budidaya,
d.      Kesuburan tanah, dan
e.       Musim, iklim, dan tinggi tempat

Pulping
          Pulping adalah hasil pemisahan serat dari bahan baku berserat (kayu maupun non kayu)melalui berbagai proses pembuatannya (mekanis, semikimia, kimia).Pulp terdiri dari serat – serat (selulosa dan hemiselulosa) sebagai bahan baku kertas .Proses pembuatan pulp diantaranya dilakukan dengan proses mekanis , kimia , dan semikimia. Prinsip pembuatan pulp secara mekanis yakni dengan pengikisan dengan menggunakan alat seperti gerinda. Proses mekanis yang biasa dikenal diantaranya PGW (Pine Groundwood), SGW (Semi Groundwood). Proses semi kimia merupakan kombinasi antara mekanis dan kimia. Yang termasuk ke dalam proses ini diantaranya CTMP (Chemi Thermo Mechanical Pulping) dengan memanfaatkan suhu untuk mendegradasi lignin sehingga diperoleh pulp yang memiliki rendemen yang lebih rendah dengan kualitas yang lebih baik daripada pulp dengan proses mekanis.

Solulosa.
Adapun faktor yang membuat selulosa disenangi untuk produksi pulp dan
kertas adalah:
  1. Jumlahnya berlimpah, dapat melengkapi, dan mudah dipanen dan dipindah-pindahkan dan akibatnya bahan ini murah harganya.
  2. Zat ini umumnya berbentuk serat, dan kekuatan tariknya benar-benar tinggi.
  3. Zat ini bisa menarik air, yang mempermudah persiapan mekanik dari serat-serat atau ikatan-ikatan serat ketika campuaran serat tadi dikeringkan
  4. Zat ini tidak dapat larut dalam air dan pelarut-pelarut organik
  5. Tahan terhadap sejumlah bahan kimia yang menyebabkan dapat diisolasi dan dimurnikan dari kayu yang merupakan sumber utama selulosa.
Jenis – Jenis Proses
1.      Proses Mekanik
Proses mekanik digunakan pada pembuatan kertas tingkat rendah yang memiliki stabilitas   warna rendah, seperti koran, kertas pembungkus dan kertas karton. Pelepasan serat pada proses me kanis dilakukan dengan penggerindaan dan penggerusan.
Beberapa cara pembuatan pulp secara mekanis adalah:
  1. Stone Ground Wood Pulping (SGP) : Pada proses ini digunakan batu gerinda untuk menguraikan bahan baku. Bahan baku kayu digiling dan disemprotkan air. Rendemen yang diperoleh antara 93-98%. Kekuatan dan derajat putih pulp yang dihasilkan rendah. Energi dan air yang diperlukan cukup banyak.
  2. Refiner Mechanical Pulping (RMP) : Proses ini menggunakan penggilingan dengan cakram untuk menguraikan bahan baku. Bahan baku utama yang digunakan adalah kayu jarum karena sifat fisik yang dihasilkan lebih baik dibandingkan pulp kayu asah, sedangkan energi yang digunakan lebih rendah jika dibandingkan dengan proses SGP.
  3. Thermo Mechanical Pulping (TMP) : Proses ini juga menggunakan penggilingan dengan cakram untuk menguraikan bahan baku. Namun, perbedaan TMP dengan RMP adalah adanya proses pemanasan sebelum penggilingan sehingga ikatan-ikatan yang dibentuk lignin dilemahkan. Proses ini menyebabkan jumlah serat panjang lebih banyak sehingga memiliki kekuatan yang lebih besar. Perlakuan awal dengan pemanasan pada suhu tinggi menyebabkan komponen lignin menjadi lunak, serta komponen yang mudah larut dalam air dan mudah menguap hilang.
  4. Chemical Thermo Mechanical Pulping (CTMP) : Proses ini adalah pengembangan da ri proses TMP. Pada proses ini, perlakuan awal yang diberikan selain pemanasan adalah perlakuan kimiawi yang diharapkan dapat lebih mudah menghilangkan lignin. Rendemen yang dihasilkan lebih rendah dari proses mekanik biasa tetapi menghasilkan pulp yang memiliki sifat fisik yang lebih baik. Fraksi serat panjang yang dihasilkan lebih banyak dari pulp yang berasal dari proses mekanik lainnya.
2.      Proses Semi Kimia.
Proses ini merupakan gabungan dari proses mekanik dan proses kimia. Tahap awal dari proses ini adalah pengolahan bahan baku dengan menggunakan bahan kimia untuk memutuskan ikatan lignin, selulosa, kemudian dilanjutkan dengan pengolahan kimia. Contoh pros es ini adalah proses pemasakan pulp dengan menggunakan Na2SO3 yang mengandung larutan buffer untuk menetralkan asam-asam organik yang terbentuk pada pemanasan sampai 120 oC atau lebih. Fungsi buffer adalah untuk mencegah korosi, menaikkan rendemen dan mengurangi waktu pemasakan. Contoh buffer adalah campuran NaOH dengan Na2CO3 atau Na2S dengan Na2 SO4 . Buffer yang sering digunakan adalah NaHCO3 karena menghasilkan pulp dengan warna yang lebih baik dan dengan pemakaian bahan kimia yang lebih sedikit. Proses semi kimia yang lain adalah proses alkali dingin yaitu perendeman bahan baku dalam larutan NaOH pada suhu kamar dan tekanan atmosfer. Brightness kertas yang dihasilkan lebih rendah jika dibandingkan dengan proses netral sulfit.
3.      Proses Kimia.
       Pembuatan pulp dengan proses kimia adalah proses untuk merusak dan melarutkan zat pengikat serat yang terdiri dari lignin, pentosa dan lainnya dengan menggunakan bahan-bahan kimia. Proses untuk merusak dan melarutkan ini umum disebut sebagai proses pemasakan. Proses pemasakan bahan baku dengan larutan kimia dilakukan dalam reaktor yang disebut sebagai digester. Selama pemasakan berlangsung, lignin bereaksi dengan larutan kimia pemasak dan membentuk senyawa-senyawa terlarut yang mudah dicuci. Namun karena kesamaan sifat fisik dan kimia dari selulosa dan lignin, sebagian selulosa ikut bereaksi juga, sehingga dapat menurunkan rendemen pulp yang dihasilkan. Berdasarkan bahan kimia yang digunakan untuk pemasakan, pembuatan pulp dengan proses kimia dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
1.      Proses Sulfat.
    Pada proses sulfat, larutan pemasak yang digunakan adalah sodium hidroxide dan sodium sulfite. Sodium sulfite dihasilkan dari reduksi sulfat selama proses pembakaran dengan reaksi:                              Na2SO4+ 2C → Na2 S + 2CO2
    Sodium hidroxide dihasilkan dari hidrolisis sodium sulfite di dalam air dengan reaksi:                                                                                       Na2S + H2O ↔ NaOH + NaHS
    NaHS berfungsi sebagai buffer dan mengurangi efek degradasi selulosa oleh NaOH. NaHS dapat bereaksi dengan lignin menghasilkan thio-lignin yang mudah larut dalam alkali sehingga pemasakan dapat berlangsung lebih singkat dan temperatur dapat diturunkan sekitar 160-170 0C. Serat yang dihasilkan sangat baik tetapi memiliki warna yang jelek, sehingga proses ini digunakan untuk membuat kertas berkekuatan tinggi seperti kantong semen dan kertas bungkus.Proses sulfat memakai alkali aktif dan sulfiditas sebagai bahan pemasak, sebagai bahan baku hampir semua jenis kayu dan non kayu baik kayu lunak maupun kayu keras. Pulp yang dihasilkan berwarna coklat dan mempunyai kekuatan fisik yang tinggi sehingga biasanya digunakan untuk pembuatan kertas semen, kertas bungkus dan kertas liner, dan udah diputihkan ( bleaching ).

2.ProsesSulfit.                                                                                                                     
Proses ini menggunakan bahan kimia aktif, yaitu asam sulfit, kalsium bisulfit, sulfur dioksida yang dinyatakan dalam larutan Ca(HSO3)2 dengan H2SO3 berlebih. Bahan baku yang digunakan biasanya kayu lunak dan larutan pemasak SO2 dan Ca(HCO3)2.
Reaksi pembuatan larutan pemasak adalah:
                                                     S + O2 —> SO2
                 2SO2 + H2 O + CaCO3 —–> Ca(HSO3)2 + CO2
                 Lignin yang terikat pada selulosa akan bereaksi dengan larutan Ca(HSO3)2 membentuk lignin sulfonat dengan reaksi sebagai berikut:
Ca(HSO3)2 ——> Ca 2+ + 2HSO3-
Lignin + HSO 3- —-> SO2+ Lignin-OH
Lignin-OH + HSO3 —>  Lignin-SO3 + H2O
Pulp yang dihasilkan dari proses sulfit baik untuk pembuatan kertas tissue dan kertas-kertas cetak bermutu.
Beberapa keuntungan pulp sulfit adalah:
  1. Rendemen yang lebih tinggi pada bilangan kappa tertentu, yang melibatkan kebutuhan kayu yang rendah;
  2. Derajat putih pulp yang tidak dikelantang lebih tinggi; dan
  3. Persoalan pencemaran sedikit.
            Cara ini sudah sangat jarang dipakai, karena biayanya yang terlalu mahal

4.      Proses Soda (NaOH)
Proses ini digunakan untuk bahan baku non kayu seperti bagasse, jerami, damen dan jenis rumput-rumputan yang lain. Larutan pemasak yang digunakan adalah NaOH sebanyak 18-35% berat bahan baku kering. Degradasi selulosa oleh larutan NaOH pekat dapat terjadi pada suhu di atas 100 0C. Semakin tinggi temperatur pemasakan maka perbandingan jumlah selulosa yang hilang akan lebih banyak daripada lignin yang hilang.
Beberapa hal yang berpangaruh pada proses soda adalah:
a.       Perbandingan cairan pemasak terhadap bahan baku yang digunakan.
Kekurangan bahan kimia atau laru tan pemasak menyebabkan pulp berwarna gelap dan sukar diputihkan pada tahap bleaching . Namun, bahan pemasak yang berlebihan dapat menurunkan rendemen dengan terjadinyadegradasi serat-serat selulosa.
b.      Waktu dan temperatur pemasakan.
Bila waktu pemasakan terlalu lama maka selulosa juga akan larut dalam jumlah besar. Jika temperatur terlalu tinggi, jumlah karbohidrat yang terdegradasi akan lebih besar daripada lignin yang terlarut sehingga akan menurunkan rendemen dan kekentalan pulp.
5.      Proses Organosolv
Pembuatan biomassa secara efisien dapat dilakukan dengan menerapkan konsep ”biomass refining ” yaitu pemrosesan dengan menggunakan pelarut organik ( organosolve process ). Prinsipnya adalah melakukan fraksionasi biomassa menjadi komponen-komponen utama penyusunnya (selulosa, hemiselulosa, dan lignin) tanpa banyak merusak ataupun mengubahnya, serta dapat diolah lebih lanjut menjadi produk yang dapat dipasarkan. Fraksionasi biomassa menggunakan pelarut organik yang telah menjadi suatu metode alternatif bagi proses-proses konvensional dalam pembuatan pulp, yang lebih dikenal dengan organosolve pulping.

Kelebihan dari proses organosolv dibandingkan dengan proses  konvensional adalah:
1.        Berdampak kecil bagi lingkungan, yaitu tidak menyebabkan timbulnya pencemaran seperti  gas-gas berbau yang disebabkan oleh belerang.
2.        Cairan pemasak (pelarut organik) bekas dapat digunakan kembali setelah dimurnikan terlebih dahulu.
3.        Produk samping mempunyai daya jual seperti glukosa, pentosa, fulfural, adhesiv serta bahan-bahan kimia.
6.      Proses Bioteknologi
Peningkatan kualitas kayu yang menyangkut modifikasi biokimia kayu  sangat berkaitan erat dengan usaha-usaha dalam memodifikasi kandungan lignin dalam kayu. Lignin bersama-sama dengan selulosa merupakan suatu komponen penting pada tumbuhan-tumbuhan berpembuluh dan dapat ditemukan dalam jumlah yang besar pada dinding sel sekunder, serat dan pembuluh angkut xilem.      Fungsi lignin dalam tumbuhan selain sebagai penunjang mekanik (mecanical support) juga sangat penting dalam membantu pertahanan tumbuhan terhadap patogen. Untuk kepentingan industri ada dua kemungkinan berlawanan yang  menyangkut modifikasi kandungan lignin dalam kayu. Pertama, bila kayu yang diproduksi diperlukan untuk penghasil energi, maka kandungan lignin perlu ditingkatkan karena secara kimia lignin mengandung energi yang banyak  bila dibandingkan dengan komponen-komponen kayu lainnya. Kedua, bila kayu yang diproduksi diperlukan sebagai bahan baku kertas dan pulp, maka kandungan lignin di dalam kayu perlu dikurangi karena dalam pembuatan kertas dan pulp yang diperlukan hanyalah selulosa. Jadi untuk keperluan ini bioteknologi dapat digunakan dalam usaha meningkatkan kandungan selulosa dan mengurangi kandungan lignin dalam kayu tanpa melewati batas-batas fungsi kedua senyawa tersebut. Pengurangan kandungan lignin dalam kayu juga dapat memberikan dampak positif terhadap lingkungan, yakni dapat mengurangi kadar polutan kimia yang dihasilkan dari proses pembuangan lignin selama proses pembuatan kertas dan pulp. Modifikasi kandungan lignin dalam kayu dapat dilakukan melalui pengontrolan enzim-enzim yang terlibat dalam jalur biosintesis lignin. Karena enzim merupakan produk dari gen, maka modifikasi kandungan lignin ini dapat dilakukan melalui modifikasi gen secara rekayasa genetik. Modifikasi gen ini tidak hanya berpengaruh terhadap kuantitas lignin saja, melainkan juga terhadap komposisi dan lokalisasi lignin di dalam kayu.
Mikroorganisme yang terdiri atas sejumlah mikroba membantu proses pelapukan sehingga sampah alam itu terurai, kembali menjadi tanah berupa humus. Hasil kerja mikroorganisma yang sempurna tak menghasilkan polusi  tersebut memberi inspirasi pada para ilmuwan kita untuk memanfaatkannya dalam sektor industri. Industri kertas dan pulp terkenal dengan limbahnya yang sulit diatasi. Limbah ini berasal dari bahan kimia seperti soda api, sulfit dan garam sulfida dalam proses penghilangan kandungan lignin. Bahan kimia inilah yang dianggap sebagai sumber pencemaran lingkungan. Proses penggunaan sulfur mencemari udara dan sudah dilarang di se jumlah negara maju seperti Jerman. Di Indonesia tidak semua pabrik kertas mempunyai unit pulping karena diisyaratkan harus mempunyai pengolahan limbah yang investasinya lebih dari 20 persen dari nilai investasi,” ujar Ba mbang Prasetya dalam orasi pengukuhannya  sebagai Ahli Peneliti Utama (APU) Bidang Konversi Biomassa di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, pekan silam.  Pengolahan pulp yang ideal adalah biopulping, yakni mengolah pulp  dengan menggunakan bantuan mikroba. Bambang menjelaskan, manfaat biopulping yang menonjol adalah penghematan energi dan pengurangan pemakaian bahan kimia. Proses pembuata n bubur kayu alias pulp dan kertas biasa dilakukan dengan memasak serpihan kayu, jerami atau ampas tebu. Semuanya menggunakan bahan kimia. Tujuan proses ini untuk memisahkan komponen lignin. Dalam biopulping, bahan-bahan kimia tadi digantikan oleh sejenis mikroba yang bisa mengeluarkan enzim dan mendegradasi lignin. Mikroba ini adalah golongan jamur atau fungi pelapuk kayu yang banyak dijumpai di alam bebas. Bahan pemutih kertas yang selama ini menggunakan bahan kimia seperti chlorite dan hydrogen peroksida dapat digantikan dengan enzim-enzim yang dikeluarkan oleh fungi pelapuk. Beberapa enzim yang sangat dikenal untuk menguraikan lignin adalah manganese peroksidase, laccase dan lignin peroksidase.

7.      Delignifikasi Oksigen.
       Delignifikasi oksigen merupakan salah satu aplikasi industri pulp dan kertas dalam melakukan bleaching (pemutihan) pulp selama beberapa tahun  terakhir ini. Keuntungan dari proses ini adalah pelestarian lingkungan. Proses delignifikasi oksigen biasanya dilakukan selama 15 sampai 90 menit di bawah tekanan 400-1.000 kPa dan pada suhu 90-110°C. 

          Berkurangnya kandungan lignin dalam biomassa menunjukkan terjadinya proses delignifikasi selama pemrosesan dilakukan. Kandungan lignin dalam pulp untuk proses-proses komersil secara sederhana dan cepat diperkirakan dengan Bilangan Kappa, yang berkorelasi dengan lignin Klason atau kandungan lignin total dalam pulp. Besarnya nilai ko relasi Bilangan Kappa dengan kandungan lignin dalam pulp bervariasi menurut biomassa dan proses yang digunakan. Bilangan kappa dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
Bilangan kappa x 0.15% = % lignin dalam pulp







KERTAS                                                                                                                   Kertas merupakan alat dokumentasi, komunikasi, administrasi, dan transaksi yang sampai saat ini tetap menjadi pilihan utama. Pengguna kertas hamper di setiap kota besar, yang memiliki kegiatan atau lalu lintas perekonomian tinggi. Di kota- kota tersebut terdapat sejumlah besar pertokoan, perkantoran, lembaga baik profit maupun non profit, sekolah, Perguruan Tinggi dan sebagainya. Semua komponen tersebut adalah pengguna kertas yang tinggi.









DAFTAR PUSTAKA
1. Erich J. Schulz .(1996). Lestari Toba Pulp. DIESEL MECHANICS. Porsea;  Toba Pulp
2. Badan Perencanaan Nasional. 2009. Sumber-sumber Pencemaran Udara.
http://udarakota.bappenas.go.id/view.php?page=sumber (diakses tanggal
17 Noember 2009)
3. Casey. 1981. Pulp and Paper Chemistry and Chemical Technology, Vol III.  JohnWiley and Sons inc. New York.
4.  Hanif, M. 2008. Mempelajari Aspek Teknologi Proses Produksi Kertas di PT
     Indah Kiat Pulp & Paper Tbk Tangerang Mill. Laporan Praktek Lapang. Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor.

 5. Chang, R. 2003. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti. Edisi Ketiga. Jilid I.  

 6.Hambali, E., Ani S., Dadang, Hariyadi, Hasim H., Iman K. R., Mira R., M.  Ihsahnur, Prayoga S., Soekisman T., Tatang H. S., Theresia P., Tito P., dan Wahyu P. 2006. Jarak Pagar Tanaman Penghasil Biodisel. Penebar Swadaya. Depok.
                     
7.Makarim, A. K. 2007. Jerami Padi Pengelolaannya dan Pemanfaatannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Agro Inovasi. Bogor.

8.Macklin, B. 2009. Pulping Jerami. Online Buku. Bandung.

9.Maulana, A., Sungkono. __________. Karakterisasi Mesin Peminat Bubur   Kertas (Pulper) dengan Kapasitas 50kg. Fakultas Teknik Universitas Nasional. Jakarta.
10.Murugan, B. 1996. Proses Kraft Pulping. PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk  Perawang.

11.Perry, Robert H. dan Dow W. Green. 1999. Chemical Engineering HandBook. 7th Edition. New York: McGraw-Hill Book Company.

12.Wikipedia. 2009. http://www.wikipedia.co.id/ Pulp. 04 November 2010.
Diposkan oleh JULOUS BLOG'S di 04:19 http://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif

14.Anonimous, Instruction Manual of Disc Filter Paper Machine 5 PT Kertas  Leces(Persero), Dorr-Oliver, French, tanpa tahun

15. Gerard, L, Production Stability on Paper Machines and Pulp and White Water
Circuit, TAPPI Journal Vol. 78, No. 10, p. 256-257

16. Gottsching, Lothar, and Heikki Pakinen, Paper Making Science Technology: Recycled Fiber and Deinking, Fapet Oy, TAPPI, USA, 2000

17. Thorp, A. B., Pulp and Paper Manufacture: Paper Machine Operation, 3rd edition Volume 11, John Wiley and Sons, Inc. Singapore, 1991

18. Wardhani, S., Optimasi Disc Filter sebagai Upaya Minimisasi Limbah Pabrik Pulp dan Kertas, Tugas Akhir Teknik Lingkungan FTSP ITS, 2004


19. Bapedal. 1998. Rencana Pelaksanaan Produksi Bersih. Booklet Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, Jakarta.
20. Chandak, S.P. DESIRE: Demonstration in Small Industries for Reducing Waste. United Nations Publication, United Nations Environment Programe: Industri and Environment, Vol. 7 No. 4, Oct. - Dec., 1994. 75739 Paris Cedex 15, France.

21. Chandak, S.P. dan P.K. Gupta, Cleaner Production as an Element of Industrial Environmental Management, Presented on Workshop Regulatory Options for Fostering Improved Environmental Mangement in the Pulp and Paper Industry, Organized by United Nations Environment Programme, Regional Office for Asia and the Pacific, 15 - 17 November 1995, Bangkok, Thailand.

22. Dillon, W.R. dan M. Goldstein. 1984. Multivariate Analysis: Methods and Application, New York: John Wiley & Sons.
           
















KATA PENGANTAR

Pertama-tama penyusun panjatkan Syukur Alhamdulillah ke Hadirat Alloh SWT.
yang  telah  melimpahkan  Rahmat  dan  Karunia-Nya  sehingga  penuyusun
dapat menyelesaikan makalah singkat ini.Tulisan ini membahas mengenai Produksi
bersih pada industri pulp.
     Sangat disadari ,bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan oleh karena itu saran-saran dan masukan-masukan positif yang
diharapkan demi penyempurnaan makalah ini.
Akher kata penyusun mohon maaf yang sebesar-besarnya jika dalam penulisan ini masih banyak kekurangan dan semoga paparan singkat dalam makalah ini memberi manfaat bagi kita semua,Amin


                                                              Lhokseumawe 2 mai 2012
                                                          Penyusun
                                                          Kelompok II

No comments:

Post a Comment